MANILA, Filipina — Presiden Ferdinand Marcos Jr. akan menyerukan perdamaian, perlindungan warga sipil, dan penghormatan terhadap hukum internasional di Timur Tengah saat menyampaikan pidato di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada minggu depan.

Pada sesi pengarahan sebelum keberangkatan yang berlangsung di Malacañang kemarin, juru bicara Kementerian Luar Negeri (DFA) Angelica Escalona menekankan pentingnya kunjungan Presiden Marcos ke PBB pada tanggal 9 hingga 10 Maret.

Pidato di Hadapan PBB dan Pertemuan dengan Sekjen PBB

Marcos dijadwalkan berbicara dalam Sesi ke-70 Komisi tentang Status Perempuan dan sesi khusus dari Sidang Umum PBB. Selain itu, ia juga akan mengadakan pertemuan dengan Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres.

“PBB merupakan tempat yang tepat bagi Presiden kita untuk menyerukan perdamaian di Timur Tengah dan keselamatan semua warga sipil, terutama bagi warga negara kita,” ujar Escalona dalam bahasa Filipina.

“Dalam dua pertemuan tersebut, Presiden akan mewakili suara dari wilayah kita, dari negara-negara berkembang, dan menyerukan tindakan menahan diri, penghormatan terhadap hukum internasional termasuk piagam PBB dan hukum kemanusiaan, serta mengajak semua pihak yang terlibat untuk kembali ke meja perundingan demi perdamaian,” tambahnya.

Kunjungan Keenam ke AS

Presiden Marcos direncanakan berangkat ke Amerika Serikat pada hari Minggu. Ini merupakan kunjungan keenamnya ke negara tersebut sejak dilantik sebagai presiden pada tahun 2022.

Marcos akan didampingi oleh Ibu Negara Liza Marcos, Menteri Luar Negeri Maria Theresa Lazaro, Sekretaris Pekerja Migran Hans Leo Cacdac, Penasihat Presiden untuk Perdamaian, Rekonsiliasi, dan Persatuan Carlito Galvez Jr., serta Sekretaris Komunikasi Presiden Dave Gomez, di antara pejabat pemerintah lainnya.

Dampak dan Relevansi untuk Indonesia

Krisis di Timur Tengah memiliki dampak yang luas, termasuk bagi Indonesia, yang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia. Kunjungan dan pidato Presiden Marcos di PBB diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap upaya perdamaian dan stabilitas di wilayah tersebut, yang juga dapat memengaruhi kebijakan luar negeri Indonesia. Selain itu, Indonesia sebagai negara dengan kontribusi signifikan dalam misi kemanusiaan dapat memperkuat perannya dalam mengatasi isu-isu global, termasuk krisis kemanusiaan yang terjadi di Timur Tengah.

Kesimpulan

Dengan pidatonya di PBB, Presiden Marcos tidak hanya mewakili kepentingan Filipina tetapi juga suara dari negara-negara berkembang yang mendambakan perdamaian dan keadilan. Ini merupakan langkah penting bagi memperkuat kolaborasi internasional dalam menangani krisis yang berkepanjangan di Timur Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *