Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap 8 Maret menjadi momen penting bagi perjuangan hak-hak perempuan di Filipina. Pada tahun 2026, Presiden Ferdinand Marcos Jr. dan Wakil Presiden Sara Duterte mengadakan acara di Liwasang Bonifacio, Manila, untuk menegaskan komitmen mereka dalam melindungi hak-hak perempuan dan memperluas kesempatan bagi mereka.

Dalam unggahan di Facebook, Presiden Marcos menyatakan bahwa perkembangan negara tidak lepas dari peran penting perempuan Filipina. “Perempuan Filipina berhak mendapatkan pemerintahan yang bekerja keras seperti mereka,” ujarnya.

Marcos menambahkan, “Di Hari Perempuan Internasional ini, saya ingin mengakui perempuan Filipina. Mereka adalah ibu, pekerja, pemimpin, dan seringkali, mereka menjalankan semua peran ini sekaligus.”

Presiden juga menegaskan bahwa di bawah pemerintahannya, mereka akan terus memperluas kesempatan dan melindungi hak-hak perempuan. “Setiap perempuan Filipina harus memiliki akses ke program kesehatan, pendidikan, dan mata pencaharian yang mereka butuhkan untuk berkembang. Hidup perempuan Filipina!”

Acara ini juga diwarnai dengan kolase foto-foto perempuan yang berperan penting dalam hidupnya, termasuk Ibu Negara Liza Marcos, mantan Ibu Negara Imelda Marcos, dan saudara perempuannya, Irene Marcos-Araneta, serta momen bersama perempuan dari berbagai sektor dan sekolah.

Perjuangan Melawan Seksisme

Sementara banyak pejabat menyampaikan ucapan selamat untuk bulan perempuan, beberapa juga mengecam pernyataan misoginis yang baru-baru ini muncul terhadap perempuan di kehidupan publik. International Association of Women in Radio and Television – Filipina menyatakan bahwa jurnalis perempuan masih menghadapi intimidasi dan serangan misoginis saat melaporkan isu-isu kepentingan publik.

Kelompok tersebut mengutuk tindakan pelecehan yang ditujukan kepada jurnalis Regine Cabato dan Philippine Center for Investigative Journalism terkait laporan mereka mengenai Laut Filipina Barat.

Selain itu, mereka juga menyoroti komentar misoginis yang ditujukan kepada aktris Anne Curtis oleh Bong Suntay, serta pernyataan pengacara Ferdinand Topacio terhadap Sarah Elago.

Suara Legislator Perempuan

Ketua Komite Perempuan dan Kesetaraan Gender DPR, Ma. Ann Lourdes Matibag, mewakili para legislator perempuan, mengecam pernyataan “merendahkan dan misoginis” yang dilontarkan oleh Suntay dan Topacio. Matibag menyebut Elago sebagai advokat yang konsisten dalam hak-hak perempuan dan keadilan sosial.

Dia juga mengimbau lembaga yang berwenang, termasuk Integrated Bar of the Philippines, untuk menyelidiki masalah ini dan menjunjung tinggi standar profesional yang ada.

Dampak di Indonesia

Perjuangan perempuan di Filipina memberikan gambaran penting bagi situasi perempuan di Indonesia. Sebagai negara dengan populasi perempuan yang signifikan, dukungan terhadap hak-hak perempuan dan perlindungan dari tindakan diskriminatif adalah hal yang sangat relevan. Kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan harus menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional.

Kesimpulan

Komitmen Presiden Marcos dan Wakil Presiden Sara untuk meningkatkan perlindungan perempuan Filipina di saat peringatan Hari Perempuan Internasional adalah langkah positif yang diharapkan bisa menginspirasi negara lain, termasuk Indonesia, untuk terus memperjuangkan hak-hak perempuan dan menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *