Philippines Tegaskan Protes Terhadap Tindakan China di Laut China Selatan
By Corey Hoffman / March 21, 2026 / No Comments / Berita
Manila, Filipina — Filipina baru-baru ini mengeluarkan pernyataan tegas mengenai insiden yang melibatkan kapal angkatan lautnya, BRP Miguel Malvar (FFG6), ketika sedang melakukan patroli di wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE) Filipina dekat Sabina Shoal. Pada tanggal 7 Maret 2026, sebuah kapal Angkatan Laut Pembebasan Rakyat China (PLA Navy) dilaporkan mengarahkan radar kontrol tembaknya kepada kapal Filipina tersebut dalam sebuah pertemuan maritim yang mereka deskripsikan sebagai “provokatif”.
Sabina Shoal, yang terletak sekitar 150 kilometer dari Palawan, dikenal sebagai kawasan kaya akan sumber daya ikan. Pernyataan resmi dari Angkatan Laut Filipina yang diposting di Facebook pada tanggal 20 Maret menjelaskan bahwa tindakan ini menimbulkan risiko yang tidak perlu dan dapat menyebabkan kesalahpahaman di laut.
Tindakan Provokatif dan Respon Filipina
Menurut Angkatan Laut Filipina, radar khusus yang digunakan kapal China dapat memberikan data penargetan yang akurat untuk sistem senjata kapal. Merespons tindakan tersebut, Angkatan Laut Filipina segera mengeluarkan tantangan radio sesuai dengan prosedur standar, yang membuat kapal China segera mengakhiri penggunaan radarnya dan meredakan situasi.
“Insiden ini menekankan pentingnya pengendalian diri dan ketaatan pada hukum internasional. Angkatan Laut Filipina tetap berkomitmen untuk melakukan patroli yang sah, melindungi hak-hak kedaulatan, dan menyelesaikan sengketa secara damai berdasarkan aturan yang berlaku di Laut Filipina,” ungkap pernyataan tersebut.
Hubungan Filipina dan China yang Semakin Tegang
Insiden ini terjadi di tengah ketegangan yang terus meningkat antara Manila dan Beijing di jalur perairan yang disengketakan, di mana kedua negara telah melaporkan beberapa kali interaksi dekat yang melibatkan kapal penjaga pantai dan kapal angkatan laut. Laut Filipina barat tetap menjadi titik nyala yang berkepanjangan, dengan Filipina menegaskan hak kedaulatannya dalam ZEE-nya, sementara China mengklaim sebagian besar Laut China Selatan meskipun ada putusan internasional yang membatalkan klaim tersebut.
Sampai saat ini, Kedutaan Besar China di Manila belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini. Ketegangan yang terjadi di kawasan ini menjadi perhatian tidak hanya bagi kedua negara, tetapi juga bagi komunitas internasional yang mengawasi dinamika geopolitik di Laut China Selatan.
Kesimpulan
Insiden radar yang ditujukan oleh kapal China kepada kapal Filipina menunjukkan betapa rentannya situasi di Laut Filipina Barat. Dengan semakin seringnya insiden seperti ini, penting bagi kedua negara untuk berkomitmen pada dialog dan penyelesaian damai. Bagi Filipina, menjaga kedaulatan dan hak-haknya di laut adalah hal yang sangat penting, dan komunitas internasional diharapkan dapat memberikan dukungan untuk upaya tersebut.