MANILA, Filipina — Peso Filipina mengalami penurunan drastis mencapai level rekor terendah di atas 60 per dollar pada hari Kamis, 19 Maret, akibat kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS yang terus menekan mata uang ini.

Data dari Asosiasi Bankir Filipina menunjukkan bahwa peso dibuka pada angka 59.9 dan sempat terjun hingga 60.40 selama perdagangan pagi. Ini adalah posisi terlemah yang pernah dicapai peso terhadap dolar.

Penyebab Anjloknya Peso Filipina

Kenaikan harga minyak tampaknya menjadi faktor utama yang menyebabkan peso anjlok. Harga minyak mentah berada di dekat $100 per barel (sekitar P6,012), sementara konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mengancam pasokan melalui Selat Hormuz. Filipina mengimpor lebih dari 90% minyak mentahnya dari kawasan tersebut, sehingga sangat rentan terhadap lonjakan harga gas.

Menurut perkiraan Michael Wan, analis senior di MUFG Bank Ltd, peso bisa jatuh sampai P61 per dolar jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut. Ia mencatat bahwa Amerika Serikat menunjukkan tidak ada tanda-tanda untuk mengurangi kampanyenya dalam menyerang Iran.

Intervensi Bank Sentral Filipina

Bank Sentral Filipina (BSP) mengungkapkan bahwa mereka telah melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk mencegah peso jatuh lebih dalam terhadap dolar. Gubernur BSP, Eli Remolona Jr., memperingatkan bahwa harga minyak yang tetap di atas $100 per barel dapat memaksa kenaikan suku bunga.

Dampak terhadap Ekonomi dan Masyarakat

Presiden Ferdinand Marcos Jr. telah menyatakan keinginannya agar peso tidak mencapai level 60 per dolar sejak bulan Januari lalu. Hal ini menunjukkan keprihatinan pemerintah terhadap dampak inflasi yang mungkin terjadi akibat melemahnya mata uang nasional. Kenaikan harga barang dan jasa sebagai akibat dari fluktuasi nilai tukar dapat berimbas langsung pada daya beli masyarakat.

Dengan situasi yang terus berkembang, pertemuan kebijakan BSP berikutnya dijadwalkan pada 23 April. Para ekonom dan analis pasar akan memantau dengan seksama bagaimana kebijakan moneter akan disesuaikan untuk merespons krisis ini.

Kesimpulan

Penurunan peso Filipina di atas 60 per dolar menandakan tantangan besar bagi perekonomian negara tersebut. Kenaikan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah berpotensi memperburuk keadaan. Bagi Indonesia, situasi ini dapat menjadi pertimbangan dalam hubungan perdagangan dan investasi dengan Filipina, terutama dalam sektor energi. Pemantauan yang cermat terhadap perkembangan ini sangat diperlukan untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *