Mengapa Harga Bahan Bakar di Filipina Tetap Tinggi Meski Ada Kesepakatan Hormuz
By Corey Hoffman / April 6, 2026 / No Comments / Berita
MANILA, Filipina — Meskipun pemerintah Marcos telah mencapai kesepakatan dengan Iran untuk memastikan kapal yang menuju Filipina dapat melintas dengan aman melalui Selat Hormuz, harga bahan bakar di Filipina tetap tinggi. Kesepakatan ini menjadi kemenangan diplomatik yang penting, namun banyak pihak yang mengatakan bahwa ini hanya sebagian dari solusi.
Ketergantungan pada Pasokan Energi dari Timur Tengah
Filipina sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah, yang mengakibatkan harga bahan bakar lokal berkaitan erat dengan pergerakan pasar internasional. Menurut Menteri Energi Sharon Garin, kesepakatan ini membantu mengurangi risiko kekurangan pasokan mendadak dengan memastikan pengiriman dapat terus berlangsung melalui salah satu titik kritis energi dunia.
Dampak Kesepakatan Hormuz
Kesepakatan tersebut berfungsi sebagai manajemen risiko dalam menghadapi ketegangan global. Namun, para analis menekankan bahwa meskipun pengiriman aman, harga bahan bakar tetap terikat pada pasar minyak global. AB Capital Securities menyatakan dalam komentarnya bahwa meskipun jalur pengiriman aman, harga minyak mentah global tidak turun, dan biaya tambahan terkait risiko konflik, seperti premi asuransi pengiriman, tetap ada.
Pasokan dan Permintaan
Perlu dicatat bahwa penetapan harga bahan bakar di Filipina tidak serta merta menurun meskipun terdapat kesepakatan ini. Hal ini disebabkan oleh penundaan dalam pengaruh perubahan harga global terhadap harga eceran. Penyesuaian harga dapat memakan waktu hingga dua bulan untuk tercermin di pompa, yang mengakibatkan pengemudi Filipina harus menghadapi harga tinggi yang terus meningkat.
Pemangku Kepentingan dan Pasar Global
Saat ini, sekitar 98% dari impor minyak mentah Filipina berasal dari Timur Tengah, menjadikan negara ini sebagai pemakai harga, bukan penentu harga. Sebagian besar produk olahan yang dikonsumsi di dalam negeri juga berasal dari kilang di Asia yang juga tergantung pada minyak mentah dari Teluk. Filipina hanya memiliki satu kilang, yaitu milik Petron Corp. di Bataan.
Implikasi Ekonomi dan Inflasi
Walaupun jalur pengiriman menjadi lebih aman, harga bahan bakar yang tinggi tetap menjadi masalah bagi masyarakat Filipina. Para pejabat energi memprediksi bahwa harga diesel bisa mencapai P170 per liter. Ketika masyarakat Filipina kembali beraktivitas setelah libur Paskah, harga minyak benchmark semakin meningkat, dengan minyak mentah Brent yang berbasis di AS mencapai lebih dari $110 per barel akibat konflik di Timur Tengah.
Hal ini dapat memiliki dampak ganda terhadap daya beli barang dan jasa di Filipina. AB Capital memperingatkan bahwa jika harga Brent bertahan di atas $110, inflasi dapat melebihi 4% dalam waktu dekat.
Kesimpulan
Kesepakatan di Selat Hormuz memang memberikan sedikit ruang bernapas bagi pasokan energi Filipina, namun tidak mengubah kondisi dasar yang mempengaruhi harga bahan bakar. Dengan harga minyak global yang terus melonjak, masyarakat Filipina harus bersiap menghadapi tantangan ekonomi yang lebih besar.