Kasus Korupsi Bulacan: Mantan Pejabat DPWH Dihapus dari Tuntutan
By Corey Hoffman / March 19, 2026 / No Comments / Berita
MANILA, Filipina — Mantan insinyur distrik Departemen Pekerjaan Umum dan Jalan Raya (DPWH) Henry Alcantara dan kontraktor Sally Santos telah dihapus sebagai terdakwa dalam kasus korupsi terkait proyek pengendalian banjir di Bulacan.
Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Kementerian Kehakiman, Polo Martinez, pada hari Kamis, 19 Maret. Menurutnya, Alcantara dan Santos dihapus dari daftar terdakwa berdasarkan pengakuan mereka sebagai saksi negara di bawah Program Perlindungan Saksi.
“Dengan mengakui sebagai saksi negara di WPP, Alcantara dan Santos tidak lagi didakwa dalam kasus yang menimpa mereka, asalkan mereka memenuhi kewajiban mereka sesuai dengan R.A. No. 6981,” jelas Martinez.
Alcantara dan Santos ditunjuk sebagai saksi negara pada bulan Januari, bersamaan dengan mantan Wakil Menteri DPWH, Roberto Bernardo, dan mantan direktur regional DPWH, Gerard Opulencia.
Rincian Kasus Korupsi
Tiga kasus yang diajukan terhadap mereka mencakup tuduhan korupsi dan penyalahgunaan wewenang terkait proyek yang diduga bermasalah yang melibatkan SYMS Construction Trading, yang dimiliki oleh Santos.
Menurut Martinez, kasus-kasus ini awalnya didaftarkan di pengadilan Bulacan antara akhir Januari dan pertengahan Februari, namun kemudian dipindahkan ke pengadilan anti-korupsi khusus di Quezon City.
Martinez juga menyatakan bahwa terdakwa dalam kasus tersebut telah diadili pada minggu pertama Maret. Proses pra-persidangan untuk dua dari tiga kasus tersebut dijadwalkan berlangsung pada 13 April di Cabang 79 Pengadilan Negeri Quezon City.
Dampak dan Relevansi bagi Indonesia
Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya pengawasan terhadap proyek-proyek pemerintah, termasuk di Indonesia, di mana korupsi sering kali menjadi masalah serius. Munculnya saksi negara dapat memicu lebih banyak pengungkapan tentang praktik korupsi yang mungkin terjadi di dalam proyek-proyek infrastruktur, yang diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran publik.
Keterlibatan mantan pejabat publik dalam kasus-kasus korupsi seperti ini juga menjadi peringatan bagi pemerintah Indonesia untuk terus memperkuat sistem hukum dan mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Penanganan yang tegas terhadap kasus korupsi di Filipina bisa menjadi contoh yang baik bagi Indonesia dalam melawan praktik serupa.
Kesimpulan
Dengan dihapuskannya Alcantara dan Santos dari daftar terdakwa, perhatian kini beralih kepada bagaimana kasus-kasus ini akan berlanjut dan apakah akan ada dampak lebih lanjut terhadap kebijakan pengawasan proyek pemerintah di Filipina. Situasi ini juga dapat menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia untuk memperbaiki sistem pencegahan korupsi dan menjaga integritas dalam pengelolaan proyek infrastruktur.