Harga Makanan Dorong Inflasi Filipina Naik ke Puncak 13 Bulan
By Corey Hoffman / March 5, 2026 / No Comments / Ekonomi
MANILA, Filipina — Inflasi di Filipina mengalami percepatan mencapai 2,4% pada bulan Februari 2026, menjadi rekor tertinggi dalam 13 bulan terakhir. Data ini dirilis oleh Philippine Statistics Authority (PSA) pada Kamis, 5 Maret 2026.
Angka inflasi terbaru ini meningkat 0,4 poin persentase dibandingkan bulan Januari yang tercatat sebesar 2,0%, dan sedikit lebih tinggi dibandingkan 2,1% yang dicatat pada Februari 2025. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh harga makanan dan minuman non-alkohol yang meningkat signifikan, dengan inflasi pada kelompok ini naik dari 1,1% di Januari menjadi 1,8% di Februari.
Rincian Inflasi Berdasarkan Komoditas
Berikut adalah rincian laju inflasi berdasarkan kelompok komoditas pada bulan Februari:
- Jagung: 9,4%
- Tepung, roti dan produk bakery lainnya: 2,4%
- Ikan dan produk laut lainnya: 7,7%
- Susu, produk susu, dan telur: 1,4%
- Buah dan kacang: 3,8%
- Sayuran, umbi-umbian, pisang masak, dan kacang-kacangan: 6,1%
- Pakaian dan alas kaki: 2,4%
- Perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar lainnya: 3,5%
- Perawatan kesehatan: 3,2%
- Restoran dan layanan akomodasi: 4,4%
- Perawatan pribadi dan barang serta jasa lainnya: 2,8%
Sementara itu, penurunan laju inflasi tercatat pada sektor informasi dan komunikasi serta transportasi.
Risiko Geopolitik dan Dampaknya
Meskipun angka inflasi ini dicatat sebelum meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi menyebabkan lonjakan harga gas global, Department of Economy, Planning, and Development (DEPDev) menyatakan bahwa mereka menyadari dampak perkembangan geopolitik terkini terhadap konsumen Filipina.
“Kondisi harga secara keseluruhan tetap stabil. Namun, kami tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik yang baru-baru ini terjadi, yang kami awasi bersama dengan kondisi pasokan domestik dari komoditas penting,” ujar Menteri DEPDev, Arsenio Balisacan.
Balisacan menambahkan bahwa pemerintah sedang menyiapkan langkah-langkah jangka pendek, termasuk penerbitan pedoman untuk menghemat bahan bakar.
“Kami siap melakukan intervensi yang tepat waktu dan terarah jika guncangan eksternal semakin meningkat. Prioritas kami adalah melindungi rumah tangga yang rentan, mendukung industri yang terdampak, dan menjaga momentum pertumbuhan negara di tengah ketidakpastian global,” tegas Balisacan.
Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) menegaskan bahwa inflasi tetap dapat dikelola, meskipun memproyeksikan angka inflasi untuk 2026 mencapai 3,6%.
“Dewan Moneter akan tetap waspada dan dipandu oleh data yang masuk, terutama terkait inflasi. Kami juga memperhatikan perkembangan terkini di Timur Tengah dan implikasinya terhadap inflasi jangka pendek serta aktivitas ekonomi,” ungkap BSP.
Konteks bagi Indonesia
Kenaikan inflasi di Filipina dapat memberikan gambaran tentang potensi dampak yang mungkin terjadi di Indonesia, mengingat interaksi ekonomi antara kedua negara di kawasan Asia Tenggara. Masyarakat Indonesia perlu memperhatikan fluktuasi harga pangan dan dampaknya terhadap daya beli, terutama di tengah situasi global yang tidak menentu.
Kesimpulan: Inflasi di Filipina yang meningkat menjadi 2,4% pada Februari 2026 menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh negara tersebut dalam mempertahankan stabilitas harga. Sementara itu, dampak dari perkembangan geopolitik global juga perlu dicermati oleh pemerintah dan masyarakat di Indonesia untuk mengantisipasi perubahan di pasar.