Manila, Filipina — Negara-negara yang bergantung pada pekerja Filipina untuk mengisi posisi di rumah sakit, kapal, dan merawat lansia memiliki tanggung jawab untuk melindungi mereka. Pernyataan ini disampaikan oleh Sekretaris Pertahanan Gilberto C. Teodoro Jr. dalam pidato kunci di Paris Defence and Strategy Forum 2026 pada 25 Maret 2026. Pidato ini menjadi momen bersejarah karena Teodoro merupakan menteri pertahanan Asia Tenggara pertama yang tampil dalam forum tersebut.

Pernyataan Teodoro datang di tengah konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah, yang berdampak signifikan bagi lebih dari dua juta pekerja Filipina di kawasan tersebut. Sebelumnya, sebuah insiden tragis terjadi ketika seorang perawat Filipina berusia 32 tahun tewas akibat serangan rudal di Israel saat berusaha menyelamatkan lansia yang dirawatnya.

Peran Penting Pekerja Filipina di Dunia

Teodoro menyampaikan bahwa satu dari tiga anggota kru di kapal niaga internasional adalah warga Filipina. “Satu dari tiga adalah profesional kesehatan, yang menjadi tulang punggung dalam penyediaan layanan kesehatan bagi masyarakat Eropa dan Amerika,” ujarnya. Dia juga menegaskan bahwa banyak pekerja Filipina yang menjadi korban serangan baik di darat maupun di laut.

Konsekuensi Konflik

Menurut Teodoro, setiap pekerja Filipina yang pergi ke luar negeri berkontribusi pada hilangnya sumber daya manusia di Filipina. “Ini adalah permainan yang merugikan, di mana negara asal kehilangan yang terbaik sementara negara lain mendapat manfaat,” jelasnya. Dia menekankan pentingnya tanggung jawab bersama untuk melindungi pekerja tersebut di bawah payung hukum internasional.

Filipina sebagai negara pengimpor minyak bersih dan tidak memiliki angkatan bersenjata ekspedisi, sangat terdampak oleh konflik ini. “Bayangkan jika karena konflik, pekerja migran, pelaut, dan profesional kesehatan kita terpaksa pulang atau tidak diizinkan membantu negara lain. Apa yang akan terjadi?” tegas Teodoro.

Pulangnya Pekerja Filipina dan Dampak Ekonomi

Sejak awal Maret, lebih dari 2.000 pekerja Filipina telah dipulangkan dari kawasan konflik, dengan ratusan lainnya dalam proses evakuasi. Penutupan ruang udara di beberapa negara semakin mempersulit proses ini. Selain itu, gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz telah menyebabkan lonjakan harga minyak mentah di seluruh dunia, yang berdampak langsung pada Filipina sebagai negara yang mengimpor lebih dari 90% minyaknya dari Timur Tengah.

Pada 24 Maret, Presiden Ferdinand Marcos Jr. menandatangani peraturan eksekutif untuk mengaktifkan kekuasaan darurat dalam mengelola krisis tersebut, pada hari yang sama saat Teodoro berdiskusi dengan pejabat NATO di Paris.

Kemitraan dengan NATO dan Eropa

Pada 24 Maret, sehari sebelum pidato kunci, Teodoro bertemu dengan Ketua Komite Militer NATO Laksamana Giuseppe Cavo Dragone. Keduanya sepakat akan pentingnya berbagi informasi dan praktik terbaik antara angkatan bersenjata mereka. Ini adalah bagian dari upaya Filipina untuk meningkatkan interoperabilitas dengan NATO dan Uni Eropa, yang semakin dipercepat di bawah pemerintahan Marcos.

Filipina baru-baru ini menyelesaikan negosiasi untuk perjanjian angkatan bersenjata yang dapat berkunjung dengan Prancis, yang merupakan yang pertama dengan negara Eropa. Langkah ini menunjukkan komitmen Filipina untuk memperkuat kerjasama pertahanan internasional.

Kesimpulan

Pernyataan Gibo Teodoro di forum internasional ini menyoroti betapa krusialnya perlindungan bagi pekerja Filipina di luar negeri, terutama di tengah ketegangan global. Tindak lanjut dari pernyataan ini harus menjadi prioritas bagi pemerintah, untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan warga negara yang bekerja di luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *