MANILA, Filipina — Presiden Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr. mengungkapkan bahwa pemerintah Filipina sedang melakukan koordinasi dengan pihak berwenang Portugal untuk mencari dan menangkap Zaldy Co, mantan anggota legislatif yang telah buron selama lebih dari tiga bulan sejak perintah penangkapan dikeluarkan.

Dalam konferensi pers pada Selasa, 10 Maret (waktu New York), Marcos menjelaskan bahwa pemerintah Filipina tidak dapat sembarangan membawa Co pulang, karena aparat kepolisian tidak memiliki yurisdiksi untuk melakukan penangkapan di Portugal.

Koordinasi dengan Portugal

“Anda tidak bisa mengirim polisi sendiri untuk menangkapnya karena polisi tidak memiliki yurisdiksi di negara lain. Jadi, mereka tidak bisa menangkap siapapun. Ini harus dilakukan dengan bantuan negara tempat dia berada,” jelas Marcos.

Presiden menambahkan bahwa koordinasi dengan pemerintah Portugal sangat diperlukan, menegaskan bahwa saat ini Co berada di Portugal.

Tuduhan dan Kasus yang Menghantuinya

Co menghadapi tuduhan korupsi dan penyalahgunaan wewenang terkait proyek pengendalian banjir senilai P289,5 juta di Oriental Mindoro, yang dikaitkan dengan kontraktornya, Sunwest Inc. Marcos juga mengonfirmasi bahwa Filipina telah mengajukan permohonan red notice kepada Organisasi Polisi Kriminal Internasional (Interpol), yang akan mengarahkan penegak hukum di negara-negara anggota untuk membantu dalam pencarian dan penahanan sementara Co menunggu ekstradisi atau proses hukum lainnya.

“Kami telah mengajukan red notice ke Interpol dan terus berkoordinasi dengan pihak berwenang Portugal untuk membawanya pulang,” tambahnya.

Perkembangan Terkini

Biro Investigasi Nasional (NBI) telah mengajukan dokumen permohonan red notice Interpol pada 11 Februari. Divisi Operasi Internasional NBI juga sedang berkoordinasi dengan otoritas penegak hukum asing untuk menemukan Co.

Sementara itu, surat perintah penangkapan terhadap Co baru dikeluarkan pada November 2025, namun mantan legislator tersebut sudah berada di luar negeri sejak Juli 2025, tepat saat Marcos memerintahkan penyelidikan terhadap proyek pengendalian banjir yang diduga tidak sesuai prosedur.

Sandiganbayan sejak itu telah menyatakan Co sebagai buron dan memberikan keputusan untuk menyita 16 properti miliknya guna mengamankan lebih dari P215 juta dalam kewajiban sipil yang diduga ada, artinya pengadilan akan menahan properti tersebut selama proses hukum berlangsung.

Menunggu Putusan Mahkamah Agung

Co juga sedang menunggu keputusan dari Mahkamah Agung terkait petisi untuk membatalkan resolusi dari Kantor Ombudsman yang menemukan alasan yang cukup untuk mengajukan tuntutan terhadapnya. Kasus ini menarik perhatian publik, tidak hanya di Filipina tetapi juga di Indonesia, mengingat pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pemerintahan.

Jika Co berhasil ditangkap, hal ini bisa menandai langkah maju dalam pemberantasan korupsi di kawasan Asia Tenggara. Kasus ini menjadi contoh penting bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, dalam menghadapi isu yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *