China Bantah Klaim Depresiasi Yuan untuk Dorong Ekspor
By Corey Hoffman / March 6, 2026 / No Comments / Ekonomi
Beijing mengonfirmasi bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk mengandalkan yuan yang lebih lemah dalam meningkatkan perdagangan. Pernyataan tersebut muncul di tengah penguatan nilai tukar yuan dan tekanan dari mitra dagangnya agar mata uang tersebut diperkuat.
“China tidak memiliki kebutuhan maupun niat untuk memperoleh keuntungan kompetitif dalam perdagangan melalui depresiasi mata uang,” ungkap Pan Gongsheng, gubernur bank sentral China, dalam konferensi pers pada Jumat lalu.
Menjelang Perundingan Perdagangan dengan AS
Komentar ini datang sebelum pertemuan baru antara China dan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung di Paris minggu depan. Mesin ekspor China yang besar, yang menjadi sumber utama ketidakseimbangan perdagangan bilateral, biasanya menjadi agenda utama dalam negosiasi tersebut.
Pemerintahan AS sebelumnya telah menuduh China memperoleh keuntungan perdagangan yang “tidak adil” melalui depresiasi mata uang, tuduhan yang telah lama dibantah oleh Beijing. Washington pernah menyebut China sebagai manipulator mata uang pada masa kepresidenan Donald Trump.
Pertukaran Yuan dan Dolar AS
Pada saat ini, kurs yuan terhadap dolar AS berada di sekitar titik tengah dari rentang nilai tukar dalam beberapa tahun terakhir, kata Pan. Yuan terus menguat terhadap dolar AS sejak akhir tahun lalu. Bank Sentral China (PBOC) menetapkan nilai tukar tetap yuan pada 6.9025 terhadap dolar AS pada hari Jumat, sedikit lebih lemah dibandingkan 6.9007 pada hari Kamis, yang merupakan level terkuat dalam 34 bulan terakhir.
Penguatan yuan bertepatan dengan pelemahan dolar AS, yang mengalami tekanan turun dalam beberapa bulan terakhir akibat ketidakpastian kebijakan di bawah pemerintahan Trump.
Dampak bagi Indonesia
Situasi ini juga berpotensi mempengaruhi Indonesia, sebagai negara dengan hubungan dagang yang signifikan dengan China. Penguatan yuan dapat meningkatkan daya saing produk-produk China di pasar internasional, termasuk di Indonesia. Hal ini dapat berdampak pada produk lokal yang berhadapan langsung dengan barang-barang impor dari China. Jika yuan terus menguat, maka harga barang impor dari China akan lebih tinggi, yang dapat mempengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat Indonesia.
Di sisi lain, jika China dapat mempertahankan nilai tukar yuan dalam kondisi stabil tanpa melakukan depresiasi, hal ini dapat membantu menciptakan pasar yang lebih seimbang bagi importir dan eksportir di Indonesia. Stabilitas ini penting untuk menjaga kepercayaan dalam perdagangan bilateral antara kedua negara.
Kesimpulan
Pernyataan tegas dari China mengenai depresiasi yuan menunjukkan bahwa negara tersebut ingin menjaga citra dan stabilitas ekonominya di tengah tekanan dari mitra dagang. Bagi Indonesia, perkembangan ini perlu dicermati, terutama terkait dengan dampaknya pada perdagangan dan ekonomi domestik.