MANILA, Filipina — Sebanyak 18 mantan Marinir yang mengklaim adanya pengiriman uang dalam jumlah besar kepada pejabat publik telah sepakat untuk mengikuti wawancara individu dengan Biro Investigasi Nasional (NBI), menurut pengacara mereka.

Pada hari Selasa, 17 Maret, pengacara mereka, Levi Baligod, menyatakan bahwa mantan prajurit tersebut kembali ke NBI untuk menyerahkan bukti tambahan terkait dengan tuduhan yang tercantum dalam afidavit bersama yang mereka ajukan ke Kantor Ombudsman pada bulan Februari lalu.

“Pada 12 Maret lalu, pernyataan Direktur Matibag bahwa kami tidak mengizinkan wawancara satu lawan satu tidak benar. Sesi tanya jawab mereka berlangsung hampir tiga jam,” ujar Baligod.

Dia menambahkan, “Kami setuju untuk diwawancarai karena kami tidak memiliki sesuatu yang perlu disembunyikan.”

Proses Investigasi NBI Dipertanyakan

Baligod juga mengungkapkan kekhawatirannya setelah penyidik NBI menyatakan bahwa mereka akan menginterogasi mantan marinir tersebut mengenai isi afidavit mereka, yang melampaui verifikasi identitas.

“Saya mengatakan, ‘Tunggu sebentar, sepertinya Anda akan melampaui wewenang yang diberikan kepada Anda… wewenang yang didelegasikan,’” katanya.

Dia juga menegaskan bahwa NBI tidak meminta mantan marinir tersebut untuk menyerahkan afidavit individu.

“NBI bahkan tidak mewajibkan itu—untuk menyerahkan afidavit individu. Hanya Ombudsman yang melakukannya,” tambahnya.

Pengaduan yang Diajukan

Ombudsman Jesus Crispin Remulla sebelumnya mendorong mantan marinir untuk menyerahkan afidavit individu sehubungan dengan tuduhan mereka. Kelompok tersebut telah menyerahkan afidavit bersama pada 26 Februari, yang kemudian dirujuk untuk diselidiki.

Setelah itu, Ombudsman mendelegasikan penyelidikan kepada NBI, yang mengeluarkan panggilan untuk para responden. Lima individu yang disebutkan dalam afidavit tersebut telah mengajukan pengaduan untuk pencemaran nama baik dan perjury di Kementerian Kehakiman terhadap Baligod, 18 mantan marinir, dan mantan legislator Mike Defensor.

Mantan marinir tersebut mengklaim dalam afidavit mereka bahwa mereka menerima tas kertas atau koper berisi uang dari mantan legislator buronan Zaldy Co.

Dampak dan Konteks

Kasus ini menarik perhatian publik dan media, terutama di tengah situasi politik yang sensitif di Filipina. Pengungkapan mengenai dugaan korupsi dan pengiriman uang kepada pejabat bisa memiliki dampak yang luas, termasuk mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan institusi lainnya. Bagi Indonesia, kasus serupa dapat menjadi pelajaran mengenai pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pemerintahan untuk mencegah praktik korupsi yang merugikan pembangunan sosial dan ekonomi.

Kesimpulan

Dengan kesediaan 18 mantan marinir untuk memberikan keterangan kepada NBI, harapan akan terungkapnya kebenaran terkait klaim uang ini semakin terbuka. Proses investigasi yang transparan akan sangat penting untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap institusi negara. Kasus ini menunjukkan bahwa masyarakat berhak mengetahui dan menuntut akuntabilitas dari para pemimpin dan pejabat yang dipercayai untuk menjalankan tugas mereka dengan integritas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *