MANILA, Filipina — Wakil Presiden Sara Duterte telah resmi diperintahkan untuk memberikan jawaban terhadap dua keluhan impeachment yang diajukan kepadanya di DPR. Perintah ini dikeluarkan pada hari Kamis, 5 Maret, dengan batas waktu sepuluh hari untuk menanggapi keluhan tersebut.

Surat perintah tersebut diterima oleh Kantor Wakil Presiden di Mandaluyong City pada pagi hari yang sama. Dalam salinan surat yang dibagikan oleh komite hukum DPR, dinyatakan bahwa wakil presiden harus mengajukan jawaban yang telah diverifikasi dalam waktu yang tidak dapat diperpanjang.

Apabila Sara Duterte gagal memenuhi tenggat waktu yang ditentukan, ia akan dianggap telah melepaskan hak untuk mengajukan jawaban dan akan dianggap melakukan penyangkalan umum terhadap semua tuduhan yang diajukan.

Perintah ini diterbitkan sehari setelah komite hukum DPR memberikan suara 54-1 untuk menyatakan kedua keluhan tersebut cukup substansial, yang merupakan langkah awal kedua dalam proses impeachment. Hanya Rep. Bong Suntay dari Quezon City yang memberikan suara menolak.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Setelah Duterte mengajukan jawaban, para pengadu akan memiliki waktu tiga hari untuk mengajukan balasan. Selanjutnya, Duterte dapat mengajukan tanggapan kembali dalam waktu tiga hari berikutnya.

Rep. Jinky Luistro, ketua komite hukum DPR, menyatakan bahwa panel akan menentukan apakah ada alasan yang cukup untuk mendukung keluhan-keluhan tersebut setelah semua dokumen dan bukti terkumpul. Jika Duterte memilih untuk tidak menanggapi sama sekali, komite akan menganggapnya sebagai penyangkalan dan melanjutkan ke sidang.

Michael Poa, juru bicara tim pembela Duterte, mengkonfirmasi telah menerima surat perintah tersebut. Namun, ia tidak memberikan komentar lebih lanjut mengenai proses hukum yang berlangsung.

Apa Saja Tuduhannya?

Kedua keluhan impeachment tersebut menuduh Duterte melakukan pengkhianatan terhadap kepercayaan publik, pelanggaran konstitusi, korupsi, suap, dan tindak kejahatan berat lainnya.

Tuduhan ini berfokus pada dugaan penyalahgunaan dana rahasia sebesar P612,5 juta dari Kantor Wakil Presiden dan Kementerian Pendidikan selama masa jabatannya sebagai menteri pendidikan, serta ancaman yang dilontarkan Duterte terhadap Presiden Ferdinand Marcos Jr., Ibu Negara, dan mantan Ketua DPR, Martin Romualdez.

Ini merupakan upaya impeachment kedua terhadap wakil presiden. Sebelumnya, DPR mengajukan impeachment terhadap Duterte pada 5 Februari 2025 dan mengirimkan artikel ke Senat hari yang sama, namun Senat mengembalikan artikel tersebut ke DPR. Mahkamah Agung kemudian menyatakan keluhan tersebut tidak konstitusional pada Juli 2025, dengan alasan pelanggaran terhadap batas waktu satu tahun.

Elemen baru dalam keluhan kali ini adalah kesaksian Ramil Madriaga, mantan ajudan yang mengklaim diperintahkan oleh wakil presiden untuk mengangkut sejumlah besar uang kepada beberapa individu.

Dampak dan Konteks

Pembicaraan mengenai impeachment ini menjadi perhatian publik di Filipina, terlebih lagi dengan posisi strategis Sara Duterte sebagai wakil presiden. Proses hukum ini dapat mempengaruhi stabilitas politik di negara tersebut, dan berpotensi memberikan dampak pada hubungan diplomatik serta kebijakan domestik yang berpengaruh pada Indonesia. Masyarakat Indonesia juga perlu mencermati perkembangan ini, mengingat kedekatan hubungan kedua negara di kawasan Asia Tenggara.

Kesimpulan

Proses impeachment yang dialami oleh Wakil Presiden Sara Duterte menunjukkan dinamika politik yang kompleks di Filipina. Tindakan yang diambil oleh DPR dan reaksi dari pihak Duterte akan menjadi penentu arah kelanjutan proses ini. Dengan adanya waktu 10 hari untuk menjawab, semua mata kini tertuju kepada langkah-langkah berikutnya dalam situasi yang menegangkan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *