MANILA, Filipina — Presiden Ferdinand Marcos Jr. telah mencopot Christina Garcia Frasco dari jabatannya sebagai Menteri Pariwisata dan mengangkatnya sebagai penasihat presiden untuk komunitas yang berkelanjutan dan tangguh, seperti diumumkan oleh Malacañang pada Kamis, 12 Maret.

Dengan penggantian tersebut, Wakil Sekretaris Verna Buensuceso akan memimpin sementara Departemen Pariwisata, menurut pernyataan yang disampaikan oleh Wakil Sekretaris Komunikasi Kepresidenan Claire Castro.

Frasco akan beralih dari posisinya di pariwisata, di mana ia memimpin berbagai program untuk mendukung usaha pariwisata dan kemitraan dengan pemerintah daerah, menuju peran penasihat untuk inisiatif yang bertujuan mengatasi risiko terkait perubahan iklim.

“Seiring dengan meningkatnya bencana dan gangguan terkait iklim di berbagai daerah di negara ini yang berdampak pada ekonomi lokal dan mata pencaharian, Presiden telah menugaskan Sekretaris Frasco untuk mengambil peran ini guna memperkuat pelaksanaan dan tindak lanjut dari inisiatif nasional yang menjadi prioritas di tingkat komunitas,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Kontroversi dan Pencapaian

Frasco meninggalkan posisinya di Departemen Pariwisata di saat Filipina berupaya untuk memulihkan posisinya sebagai salah satu destinasi pariwisata terburuk di Asia Tenggara. Pencopotan ini juga terjadi setelah beberapa kontroversi yang melibatkan departemen selama masa jabatannya.

Departemen Pariwisata sebelumnya mendapatkan kritik atas materi promosi pariwisata yang secara mencolok menampilkan gambar Frasco, termasuk pada sampul majalah. Beberapa pengguna media sosial juga menyebarkan materi promosi yang menunjukkan wajah Frasco, yang memicu desakan untuk pengunduran dirinya.

Frasco kemudian memerintahkan penghapusan foto-fotonya dari materi promosi dan pemasaran pariwisata. Pihak departemen menjelaskan bahwa sampul majalah tersebut merupakan keputusan editorial dari pihak penerbit.

Pada tahun 2023, Departemen Pariwisata mengalami backlash setelah meluncurkan kampanye pariwisata bertajuk “Cintai Filipina”, yang langsung menuai kritik sesaat setelah diluncurkan.

Meski demikian, departemen tersebut melaporkan beberapa pencapaian dalam sektor pariwisata selama kepemimpinan Frasco.

Pada tahun 2025, Filipina mencatat kedatangan 6,4 juta wisatawan asing dan warga Filipina yang kembali dari luar negeri, meskipun angka tersebut masih di bawah kedatangan yang dicatat oleh negara-negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam.

Frasco sebelumnya mengutip laporan dari Dewan Perjalanan dan Pariwisata Dunia yang menunjukkan bahwa sektor pariwisata menyumbang $91,8 miliar bagi perekonomian Filipina dan menyerap 23% dari total lapangan kerja nasional.

Agensi ini juga memperkenalkan Michelin Guide ke Filipina dan menjadi tuan rumah acara Terra Madre Asia dan Pasifik.

Frasco juga mendapatkan dukungan dari sekelompok pejabat Cebu yang dikenal dengan sebutan One Cebu Island, yang sebelumnya membela kepemimpinannya dan menyebut kritik terhadap departemen pariwisata sebagai “tindakan penghancuran terkoordinasi”.

Dampak bagi Indonesia

Pencopotan Frasco menciptakan dampak signifikan bagi sektor pariwisata di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Mengingat Filipina merupakan salah satu pesaing utama Indonesia dalam sektor pariwisata, perubahan ini dapat mempengaruhi strategi pemasaran dan daya saing pariwisata kedua negara. Meningkatnya perhatian terhadap isu perubahan iklim juga dapat memberikan inspirasi bagi Indonesia untuk meningkatkan upaya keberlanjutan dalam pariwisata, yang saat ini menjadi perhatian global.

Kesimpulan

Meskipun Frasco menghadapi banyak tantangan selama jabatannya, langkah Presiden Marcos untuk mengganti posisinya sekaligus memberikan tugas baru menunjukkan perhatian yang lebih besar terhadap isu keberlanjutan dan perubahan iklim. Ini merupakan langkah penting bagi pemerintah Filipina untuk menghadapi tantangan yang ada dan mengoptimalkan potensi sektor pariwisata di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *