Manila, Filipina — Komite Perwakilan Rakyat Filipina yang membidangi Keuangan telah menyetujui RUU pengganti yang memberikan Presiden Bongbong Marcos kekuasaan untuk menangguhkan atau mengurangi pajak excise pada produk minyak bumi. Keputusan ini diambil di tengah lonjakan harga bahan bakar yang mencapai dua digit akibat konflik yang semakin memanas di Timur Tengah.

Pada pertemuan yang berlangsung pada 10 Maret, komite tersebut mengkonsolidasikan 15 RUU serupa setelah berkonsultasi dengan narasumber dari pemerintah dan perusahaan minyak mengenai mekanisme dan proses yang harus diikuti jika pajak excise bahan bakar ditangguhkan oleh Marcos.

Ketua Komite Keuangan, Rep. Miro Quimbo dari Distrik ke-2 Marikina, menyatakan bahwa RUU ini sangat penting untuk merespons dampak negatif dari kenaikan harga bahan bakar, terutama saat pasar minyak global masih tidak stabil.

Isi RUU dan Ketentuan Penangguhan Pajak

RUU yang diajukan ini bertujuan untuk mengubah Pasal 148 dari Kode Pajak Penghasilan Nasional. Dengan pengesahan RUU ini, presiden akan memiliki kewenangan untuk menangguhkan atau mengurangi pajak excise pada bahan bakar dalam kondisi tertentu.

  • Salah satu syaratnya adalah jika harga rata-rata minyak mentah Dubai mencapai atau melebihi $80 per barel selama minimal satu bulan.
  • Atau jika keadaan darurat nasional atau bencana diumumkan, yang mengakibatkan kenaikan harga pompa.

Jika ditetapkan oleh Marcos, penangguhan ini dapat berlaku untuk produk minyak tertentu atau sebagai penangguhan umum. Presiden juga dapat menerapkan pengurangan pajak excise secara parsial.

Penangguhan atau pengurangan pajak ini dapat berlangsung hingga enam bulan, kecuali jika Kongres merekomendasikan dan menyetujui perpanjangan melalui resolusi bersama. Namun, durasi totalnya dibatasi maksimum satu tahun kalender. Setelah periode tersebut berakhir, tarif pajak excise akan otomatis diberlakukan kembali tanpa memerlukan tindakan legislatif atau eksekutif lebih lanjut. Meski demikian, otoritas ini hanya berlaku hingga 31 Desember 2028.

Dampak Kenaikan Harga BBM di Filipina

Kenaikan harga bahan bakar di Filipina telah dimulai dengan beberapa perusahaan yang menerapkan kenaikan tarif secara bertahap. Beberapa perusahaan melakukan kenaikan dalam dua tahap, sementara yang lain menyebarkannya dalam hingga tujuh tahap. Contohnya, harga diesel Shell diperkirakan akan naik hingga P24,25 per liter, dibandingkan dengan kenaikan harga Petron yang hanya mencapai P19,20 per liter.

Kenaikan harga ini terjadi setelah sepuluh minggu berturut-turut kenaikan dalam harga diesel dan minyak tanah, yang disebabkan oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi semakin memburuk ketika Washington melaksanakan ancaman dengan berkoordinasi dengan Israel untuk melancarkan serangan udara ke Teheran, yang kemudian memicu Iran untuk membalas terhadap negara-negara tetangga dan menutup Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak yang vital.

Pemerintah Malacañang menyatakan pada hari Senin bahwa Marcos berencana untuk mengesahkan RUU ini sebagai mendesak, yang memungkinkan Kongres untuk mengabaikan persyaratan pembacaan RUU pada hari terpisah dan memungkinkan persetujuan pada pembacaan kedua dan ketiga dalam hari yang sama.

Jika Kongres menyetujui RUU ini, pajak excise sebesar P10 per liter untuk bensin tanpa timbal dan P6 per liter untuk diesel dapat dihapus dari harga bahan bakar di SPBU jika penangguhan diterapkan.

Kesimpulan

Rencana penangguhan pajak BBM oleh Presiden Marcos menunjukkan upaya pemerintah Filipina untuk meringankan beban masyarakat di tengah fluktuasi harga minyak global yang tidak menentu. Kebijakan ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keberlangsungan sektor transportasi serta kehidupan sehari-hari masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *