DTI Terapkan Skema Kerja Fleksibel, Respons Panggilan Presiden
By Corey Hoffman / March 5, 2026 / No Comments / Berita Ekonomi
MANILA, Filipina — Menanggapi seruan Presiden Ferdinand Marcos untuk mengurangi konsumsi bahan bakar, Departemen Perdagangan dan Industri (DTI) Filipina akan menerapkan skema kerja fleksibel mulai tanggal 9 Maret. Kebijakan ini bertujuan untuk menghemat energi di tengah dampak konflik di Timur Tengah terhadap harga bahan bakar global.
Penerapan Skema Kerja Fleksibel
Dalam Surat Keputusan 26-886, DTI akan memberlakukan skema kerja khusus yang memungkinkan pekerja di kantor pusat DTI untuk bekerja dari rumah setiap hari Jumat. Semua transaksi DTI diharapkan dilakukan secara online pada hari tersebut.
Selain itu, operasional lift serta sistem pencahayaan dan pendingin udara di Gedung DTI-Filinvest dan Gedung Utama DTI di Makati akan beroperasi dengan kapasitas yang lebih rendah pada hari Jumat. Operasional shuttle juga akan dilakukan dengan sistem jadwal bergilir, hanya untuk rute-rute tertentu yang ditentukan setiap hari.
Respon dari Kelompok Bisnis
Kelompok bisnis di Filipina menyatakan keterbukaan untuk menerapkan skema serupa, meskipun mereka mencatat bahwa tidak semua sektor dapat menerapkan kebijakan ini. Sergio Ortiz-Luis Jr., Presiden Konfederasi Pengusaha Filipina, mengatakan bahwa meskipun sektor swasta siap untuk menerapkan pengaturan kerja fleksibel dan minggu kerja empat hari, hal ini tidak dapat diterapkan secara umum bagi semua industri.
Donald Lim, Presiden Asosiasi Manajemen Filipina, sepakat bahwa minggu kerja empat hari tidak dapat diterapkan secara merata di seluruh ekonomi. Ia menekankan perlunya pendekatan yang lebih spesifik terhadap setiap sektor untuk menghindari gangguan.
Elizabeth Lee, Ketua Federasi Industri Filipina, mengingatkan bahwa penyesuaian dalam struktur kerja perlu dirancang dengan hati-hati untuk menghindari gangguan yang tidak diinginkan terhadap output, jadwal pengiriman, dan aliran rantai pasokan.
Dampak Bagi Indonesia
Penerapan skema kerja fleksibel di Filipina ini dapat memberikan dampak bagi Indonesia, terutama bagi perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan bisnis dengan sektor bisnis di Filipina. Dengan adanya pengaturan kerja yang lebih fleksibel, hal ini dapat mempengaruhi jalur distribusi dan kolaborasi antar perusahaan. Indonesia yang juga mengalami dampak dari fluktuasi harga bahan bakar global perlu mempertimbangkan kebijakan serupa untuk efisiensi operasional.
Kesimpulan
Skema kerja fleksibel yang diterapkan oleh DTI menjadi langkah strategis di tengah tantangan global saat ini. Meskipun belum semua sektor dapat menerapkannya, diskusi ini membuka peluang untuk inovasi dalam cara kerja di berbagai industri. Dengan melihat respon positif dari kelompok bisnis, ada harapan bahwa pendekatan ini dapat diadaptasi di negara lain, termasuk Indonesia, untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.